”Kejujuran mengantarkan manusia ke pintu rizqi, sedangkan kebohongan akan mengantarkan ke kefakiran.”
Kalau kita amati dan kita cermati layar televisi maka saat ini seluruh bangsa Indonesia dipertontonkan sebuah suguhan yang menampilkan berbagai atraksi dari berbagai tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh dari lembaga hukum kita. Masing-masing pihak mengklaim dirinya yang benar, dan dirinya telah mengatakan sebuah kejujuran.
Namun implikasi dari yang ditimbulkan dari klaim tersebut adalah munculnya ketidakpercayaan di kalangan masyarakat akan kebenaran dari kata-kata yang dilontarkan oleh para penegak hukum tersebut. Ujung-ujungnya adalah adakah kata-kata yang dilontaran tersebut sebuah kejujuran atau sebaliknya para pejabat tersebut melakukan sebuah kebohongan atau pun sebuah rekayasa.
Semua orang mengetahui bahwa sebuah kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Kejujuran adalah sebuah puncak dari perilaku mulia manusia, sehingga Allah menunjuk seorang Rasul-Nya dari orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, dan memiliki sikap tidak pernah berbohong, atau orang yang memiliki sifat jujur (amanah).
Untuk menyampaikan sebuah kejujuran sesungguhnya lebih mudah daripada mengungkapkan sebuah kebohongan. Untuk jujur orang cukup berbicara apa adanya, dan tidak perlu dikarang-karang lagi yang menghabiskan energi. Tapi sebaliknya untuk berbohong, orang harus mengeluarkan energi yang banyak untuk mengarang sebuah cerita, lengkap dengan alibi, dan lengkap dengan alasan-alasan pendukung yang dicari-cari sekiranya nanti kebohongan yang dilakukannya itu dipertanyakan.
Akibatnya kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan berikutnya. Malah bila perlu untuk sebuah kebohongan dikorbankanlah seseorang atau dikarang-karanglah nama seseorang sebagai sebuah pendukung kebohongan.
Sebaliknya kalau orang berkata jujur sebuah cerita dengan tenang mengalir begitu saja laksana air jernih yang keluar dari sumbernya, lalu menuruni lembah-lembah hingga bermuara ke lautan nan biru. Air yang mengalir tak terbendung oleh apa pun, dan tetap mengarah ke lautan.
Itulah sebabnya orang-orang yang berbohong biasanya orang-orang pandai, orang-orang yang punya nyali dan punya keberanian menghadapi risiko. Sedangkan orang yang jujur adalah orang-orang yang berpikir sederhana, dan tidak punya kemampuan untuk membelokkan fakta yang ada, kendati sedikit.
Namun anehnya orang tidak menyadari. Mereka lebih senang berbohong daripada harus bersikap jujur. Lebih senang mengarang-ngarang cerita daripada harus bicara apa adanya. Padahal Islam menganjurkan, ”Katakan sebuah kebenaran, walaupun hasilnya pahit”. Wallahu alam.




