ALKISAH seorang penjaga kebun diminta oleh sang pemilik kebun untuk mengambilkan buah kurma yang manis. Namun saat sang pemilik kebun itu mencicipi kurma yang didapatkan adalah yang asam. Sampai tiga kali sang pemilik kebun minta dicarikan yang manis, namun yang didapatkan tetap saja yang asam.
Hingga akhirnya dengan nada yang marah, sang pemilik kebun menanyakan, mengapa engkau tidak memberikan kurma yang manis, apakah memang engkau tidak bisa membedakan mana kurma yang manis dan mana kurma yang asam. Sang penjaga kebun dengan nada pasti menjawab, ” tidak”. Jawaban itu mengagetkan sang pemilik kebun. “bagaimana mungkin engkau tidak bisa bedakan mana yang asam dan mana yang manis, ” katanya dengan nada penasaran. Dengan nada yang mantap sang penjaga kebun mengatakan, bahwa dirinya tidak bisa membedakan mana yang asam dan mana yang manis, karena selama bekerja di kebun tidak pernah berani untuk mencicipi kurma yang dijaganya.
Singkat cerita sang pemilik kebun itu merasa takjub dan akhirnya sang penjaga kebun itu dijodohkan pada anak gadisnya. ‘Buah kejujuran’ dari sang penjaga kebun itu mengantarkannya menjadi menantu kesayangan dari pemilik kebun.
Sepenggal kisah itu seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa suatu kejujuran yang dibangun di atas keikhlasan adalah harta dan kehormatan yang tertinggi bagi seseorang yang diberikan wewenang untuk memegang amanah. Termasuk di dalamnya dalam tugas-tugas yang lebih tinggi dan lebih berat.
Namun sangat disayangkan, bahwa sekarang ini seolah-olah amanah yang dititipkan menjadi barang langka. Terungkapnya kasus korupsi, manipulasi jabatan pada hakikatnya perwujudan dari langkanya sifat amanah di dalam diri sang pemegang amanah.
Allah Swt dalam firman-menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al Anfal : 27)
Begitu juga Rasullah SAW bersabda: “Tunaikanlah amanat kepada orang yang mempercayakan kepadamu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mempercayaimu” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Wallahu ‘alam..






