Sebuah Renungan.
Oleh: Bustami Rahawarin
“Dan masa (kejayaan dan Kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia agar (mendapatkan pelajaran). QS, 3:140.
Bagi mereka yang memiliki bashirah-mata hati dan kecerdasan tajam dan pandangan penuh dengan tazkiyatun nafsu, menganggap hakekat dunia hanyalah “Lahwun walaib” permainan dan sandagurau semata.
Dunia bukanlah tempat kemurahan Allah SWT, karena Kemurahan Allah ada dalam satu alam yang Rahmat-Nya bersifat murni. Itulah pandangan ahlus suffa dan ahlul ilmi. Sebaliknya bagi mereka yang memahami dunia sebagai tempat untuk menikmati segala bentuk kesenangan dan kemewahan, maka bagi mereka dunia ini adalah tempat untuk mewujudkan semua harapan, keinginan, imimpian dan cita-cita.
Didalam Al-Qur’an Allah SWT, mempertanyakan sekelompok manusia yang tidak meyakini adanya Allah dan hari akhir (ateis) dengan firmanNya, yang artinya “Dan apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan tidak akan dikembalikan kepada kami? (QS, 23 : 115).
Dalam pandangan kaum ateis, dunia ini merupakan awal dan sekaligus akhir dari sebuah proses kehidupan yang terjadi bersifat alamiah, artinya siklus kehidupan yang terjadi di alam raya ini berlangsung dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan, mengendalikan dan mengaturnya. Sehingga mereka tidak mengenal adanya syurga, neraka, dosa, pahala dan hisab atau waumul ba’ats.
Sungguhpun mereka tidak beriman kepada Allah, tetapi Allah sengaja datangkan pertanyaan sepenting itu…? Jawabannya adalah agar kelak menjadi hujjah diwaumil akhir nanti, agar tidak ada alasan bagi mereka untuk mengatakan bahwasanya ketika didunia tidak ada pemberitaan tentang hal ini, atau kami sama sekali tidak diigingatkan akan perkara sepenting ini.
Pada hakikatnya, hujjah dari Allah yang ditunjukan kepada para kaum ateis tentang Diri-Nya dan Keagungan-Nya mengandung makna bahwa perhatian Allah amatlah besar kepada orang-orang yang beriman.
Namun demikian, ada pertanyaan mendasar tentang orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi agama mereka rapuh karena hanyut dalam kehidupan dunia yang jauh dari tujuan penciptaan. Seperti bangsa Arab yang kita saksikan?, semakin tenggelam dalam gemerlap dunia. Adakah Alqur’an memberi informasi tentang keadaan umat semacam itu?
Suatu ketika Nabi SAW, bersama para sahabat duduk dalam satu majelis, kemudian turun firman Allah, lalu Nabi membacakan ayat tersebut dihadapan para sahabat “Apabila mereka berpaling (dari jalan yang benar) maka Allah akan menggantikan dengan kaum yang lain, dan mereka tidak (durhaka) seperti kamu” (QS, 47:38).
Setelah dibacakan ayat tersebut para sahabat bertanya kepada Nabi SAW, bahwa siapakah kaum atau bangsa dimaksud yang akan menggantikan kami ini?
Jawaban Nabi pasti mengagetkan para sahabat. Karena kaum yang dimaksud ayat ini adalah mereka yang berasal dari…. sambil menepuk pundak Salma Alfarisi, lalu Nabi SAW, mengatakan bahwasanya nanti suatu saat kaumnya dia ini (Bangsa Persia) yang akan menggantikan kalian.
Sungguh menakjubkan agama fitrah ini. Bahwa setiap kebenaran informasi yang datang dari Allah dan Rasulnya, kesohihannya selalu diuji dalam realitasnya.
Seribu empat ratus tahun kemudian sejak Nabi Rofiikul’Ala, dunia saat ini menyaksikan kebenaran firman Allah dan jawaban dari Nabi SAW, atas pertanyaan para sahabat, telah terbukti kebenarannya. Dimana bangsa Iran hari ini menunjukkan keteguhan iman mereka dengan menegakkan kebenaran dan tidak tunduk pada musuh-musuh Allah! Sementara bangsa Arab kini makin jauh dari kewajiban dan perintah agama lantaran terperdaya oleh kesenangan dunia yang menipu.
PENYEBAB KEJATUHAN.
Bahwa ada dua faktor utama yang membuat bangsa Arab jatuh dalam kehinaan dan kebiasaan yang amat dalam antara lain;
Pertama. Lalai atas Kewajiban Agama.
Meskipun ajaran Islam ini diturunkan di jazirah Arab, namun syariat Allah yang sempurna ini bukanlah menjadi hak istimewa bagi mereka, atau sebagai jaminan bahwa orang-orang Arab lebih baik dan lebih kuat imannya dari umat Islam dibelahan bumi lain. Sebagai agama fitrah, Islam hadir untuk memenuhi semua tuntutan dan kebutuhan seluruh umat manusia baik bersifat lahiriah maupun batiniah, Islam datang dengan panduan yang jelas dan lengkap mengatur semua aspek hidup dan kehidupan manusia agar memperoleh kebahagiaan yang hakiki, yakni mewujudkan semua kebaikan, harapan dan cita-cita setiap orang demi mendapatkan kemurahan dan kasih sayang Allah SWT.
Akhirnya telah tiba saatnya kita menyaksikan kebenaran firman Allah, bahwasanya bangsa Arab telah terbuai oleh kemewahan dunia sehingga lalai dalam menjalankan tugas dan kewajiban agama, kelalaian yang mereka ciptakan sendiri akibat ke-kikiran.
Mereka hidup dalam kelimpahan harta dan kekayaan dunia disaat yang sama sedang terjadi diberbagai wilayah yang lain, umat Islam hidup dalam kemiskinan dan penderitaan bahkan didepan pintu-pintu rumah mereka sendiri, dan dengan mata kepala, mereka menyaksikan terjadinya pembantaian saudara-saudara mereka di Gaza tanpa ada beban dan rasa bersalah sedikitpun.
Selama ini mereka menjadikan agama sebagai alat komoditas politik dan ekonomi yang menguntungkan kepentingan duniawi mereka lalu sibuk menghabiskan waktu untuk memuaskan hasrat nafsu mereka dengan berlomba-lomba membangun gedung yang menjulang tinggi sebagai simbol kemakmuran dan kemewahan.
Sungguh watak dan karakter mereka lebih mencerminkan prilaku sebagai Pendusta Agama dan suatu saat nanti pasti dan pasti mereka akan mengatakan Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) agama Allah.
Kedua. Mengutamakan Dunia.
Bangsa Arab hari-hari ini bagaikan seorang pendekar mabuk, mereka merasa kuat dan hebat padahal sesungguhnya mereka lemah bagaikan buih dihempas badai dilautan lepas.
Mereka merasa kuat karena sumber daya alam yang dimiliki berlimpah, terutama minyak dan gas sebagai kekuatan utama sumber ekonomi mereka, yang telah menghasilkan kemajuan dan kemakmuran bagi mereka.
Tapi sesungguhnya mereka lupa bahwasanya keberkahan alam yang mereka nikmati hari ini adalah pemberian dari Allah lewat doa-doa para Nabi terutama Nabi Ibrahim alaihissalam dan Baginda kita Rasulullah SAW. Sehingga seharusnya kekayaan alam yang tersebut menjadi hak istimewa untuk dinikmati semua umat Islam di seluruh dunia.
Sikap tidak amanah seperti itu, menunjukkan prilaku orang-orang munafik, dan pasti akan mendatangkan kerugian bagi diri mereka sendiri.
Terbukti bahwa perang yang sengaja di desain amerika dan zionis israel melakukan invasi militer terhadap Iran secara sepihak terus berkecamuk sampai detik ini telah menyeret negara-negara Arab masuk dalam perangkap skenario besar zionis israel, dan kini berupah menjadi perang kawasan.
Segala bentuk kerjasama mereka dengan dunia barat yang dibanggakan itu, baik dibidang ekonomi maupun militer secara sadar atau tidak, telah membuka pintu gerbang menuju Kehancuran dan jatuhnya.
Kekayaan yang mereka miliki dan banggakan selama ini kini berubah menjadi hidangan istimewa yang diperebutkan oleh kawan-kawan setia mereka, yang telah membuat kerusakan dibanyak tempat di bumi.
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain itu Allah. Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” (QS, Hud. 113).
Peringatan pun telah sampai dihadapan mereka, namun mata hati telah tertutup rapat untuk mau menerima kebenaran karena kesombongan. Semoga menjadi peringatan bagi mereka yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sebelum terlambat.
Wallahu’alam.
OTISTA, 19 Mei 2026.





