Abuzar Al Ghiffari, Mantan Rampok yang Anti Kapitalis

Abuzar Al Ghiffari adalah sahabat Rasulullah SAW, yang hidup dan kehidupannya didedikasikan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Bagi Abuzar tidak ada tempat bagi pemimpin dzalim di dunia ini. Setiap kali menghadapi pemimpin yang hidup bermewah-mewahan Abuzar tampil ke depan dan menyampaikan hakikat kehidupan yang benar sebagaimana diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

Keberanian Abuzar dalam menyuarakan kebenaran, mengundang decak kagum Sayidina Ali bin Abi Thalib RA,  sahabat utama sekaligus menantu Rasulullah. Sayidina Ali R.A. pernah berkomentar tentang Abuzar,  “Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali.”

Keberanian Abuzar sebenarnya bukan hanya dipertunjukkan ketika umat Islam sudah kuat. Saat umat Islam jumlahnya masih sedikit pun Abuzar menunjukkan keberaniannya di depan orang-orang kafir yang masih menyembah berhala.  Dengan mengenyampingkan segala resiko, Abuzar secara terbuka menunjukkan keislamannya di depan orang-orang yang tengah menyembah berhala. 

Tentu saja sikap itu mengundang kemarahan seorang penyembah berhala dari suku Quraisy. Mereka  menyerang Abuzar.  Untung dapat diselamatkan oleh Abbas, paman Nabi. Abbas mengingatkan si penyerang bahwa Abuzar anggota penting suku Ghiffar yang mendiami jalur perdagangan mereka ke Syria. Salah-salah lalu lintas perdagangan mereka bisa terancam. 

Latarbelakang Abuzar

Abuzar sebelumnya dikenal sebagai seorang pemimpin besar perampok yang melakukan teror di negeri-negeri di sekitarnya. Ia lahir dari keluarga perampok Ghiffar yang tinggal dekat jalur kafilah Mekkah – Syiria. 

Kendati demikian Abuzar semenjak muda dikenal memiliki hati yang baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh serangannya kemudian menjadi suatu titik balik dalam perjalanan hidupnya. Ia bukan saja sangat menyesali segala perbuatan jahatnya, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya dengan meminta kepada rekan-rekannya untuk mengembalikan harta hasil jarahannya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Abuzar untuk meninggalkan tanah kelahirannya.

Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.

Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abuzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abuzar ke rumahnya dan melayani Abuzar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apapun dan Abuzar pun  tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah.

Pada keesokkan harinya, Abuzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abuzar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abuzar ke rumahnya.

Pada malam itu Ali bertanya: “Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?”
Sebelum menjawab Abuzar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: “Sesungguhnya dialah pesuruh Allah. Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita.”

Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abuzar bertemu dengan Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasehatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkan keislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abuzar menjawab dengan berani: “Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu.”

Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu pesuruh Allah.”

Tatkala mendengar ucapan Abuzar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya sebagaimana diceritakan di atas.  Kalau tidak karena Abbas, paman Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abuzar menemui ajalnya di situ.

Mengislamkan para perampok

Sejak saat itu Abuzar membaktikan dirinya kepada agama Islam dan kepada pendirinya. Ia segera mendapat tempat, bahkan termasuk yang terdekat dan terpercaya di antara para sahabat Nabi, yang sempat menimbulkan iri.

Abuzar ditugaskan Nabi mengajarkan agama Islam di kalangan sukunya sendiri. Dia pulang ke kampung halamannya dan sangat berhasil dalam tugasnya itu. Bukan hanya ibu dan saudara lelakinya Anis, tetapi hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkannya. Dia tercatat sebagai salah seorang penyiar agama Islam yang pertama dan terkemuka.

Nabi sangat menghargainya. Ketika kemudian dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam “Perang pakaian compang-camping,” dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu. Pada waktu akan meninggal, Nabi memanggil Abuzar dan sambil memeluknya berkata, “Abuzar akan tetap sama sepanjang hidupnya.” Ucapan Nabi ternyata benar, Abuzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.

Abuzar dikenal gigih dalam mempertahankan prinsip egaliter Islam. Kesetiaannya pada dan penafsirannya mengenai “Ayat Kanz” (tentang pemusatan kekayaan) menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga. Ayat ini dalam “Surah Taubah” dalam Al-Qur’an berbunyi: “Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan di cap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis. Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun.”

Ia menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Dia tidak dapat diajak berdamai berkenaan dengan tumbuhnya kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah. Menurut pendapatnya, adalah kewajiban orang Islam sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin. Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abuzar mengutip peristiwa semasa Nabi seperti yang diceritakan berikut ini:

“Pada suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abuzar, terlihat pegunungan Uhud, lalu beliau berkata kepada Abuzar, “Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah.”

Abuzar hidup menurut cara yang dianggapnya benar dan menjalankan sendiri apa yang diajarkannya. Ia bersikap tanpa kompromi terhadap kapitalisme, terhadap orang yang berkedudukan tinggi sekalipun. Abu Hurairah adalah sahabat Nabi yang namanya masyhur yang diangkat sebagai gubernur Bahrain. Suatu hari, ia datang mengunjungi Abuzar, tapi yang dikunjungi menolak bertemu pada mulanya. Ketika ditanyakan mengapa dia begitu jengkel kepada Abu Haurairah, tercermin dalam tanya jawab berikut:  

“Anda telah diangkat sebagai gubernur Bahrain.” “Benar,” jawab Abu Hurairah. “Di sana Anda tentunya telah membangun rumah seperti istana dan membeli sebidang tanah yang luas,” tambah Abuzar. “Tidak benar itu,” jawab Abu Hurairah lagi. “Kalau begitu Anda adalah saudaraku,” kata Abuzar kemudian dan langsung memeluknya.

Selama pemerintahan dua khalifah pertama, ajaran Abuzar tidak pernah mendapat tantangan. Dia hidup tenteram dan dihormati semua orang. Kesulitan timbul pada masa pemerintahan khalifah ketiga.

Ketika Abuzar pindah ke Syria, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara melimpah ruah. Ajaran egaliter Abuzar telah membuat bangkitnya masa melawan mereka. Ia menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan setempat. Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, yang bernama al-Khizra, ia ditegur Abuzar:

“Kalau anda membangun istana ini dari uang negara, berarti anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan ‘israf’ (pemborosan).” Muawiyah hanya bisa terpesona dan tidak dapat menjawab.

Muawiyah berusaha keras agar Abuzar tidak meneruskan ajarannya, tapi sang penganjur egaliterisme tetap tegar pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abuzar dan ahli-ahli agama Islam, tapi pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya. Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajarannya. Tapi ternyata rakyat berduyun-duyun meminta nasehat Abuzar. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abuzar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.

Abuzar segera dipanggil menghadap khalifah di Madinah. Pergi memenuhinya, ia masih jauh di luar kota, ketika penduduk Madinah telah keluar menyongsongnya. Sahabat Nabi itu menerima ucapan selamat datang yang hangat.

Di Madinah Abuzar juga tidak dapat hidup tenteram. Sebagian orang-orang kaya kota mengkhawatirkan aktivitasnya yang menganjurkan pemerataan penyaluran harta kekayaan. Akhirnya khalifah menyelenggarakan diskusi tentang masalah itu, yang mempertemukan Abuzar dengan Ka’Ab Ahbar, seorang terpelajar. Dalam kesempatan itu, Kaab Ahbar mempertanyakan apa yang diinginkan dengan mempertahankan hukum warisan dalam yurisprudensi Muslim, padahal Islam tidak mengizinkan peumpukan harta. Masalah ini sesungguhnya berada di luar pokok persoalan. Seperti yang diduga, diskusi tidak membawa hasil.

Usman kemudian meminta Abuzar meninggalkan Madinah untuk tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil yang terletak di jalur jalan Irak – Madinah. Musuh-musuh Islam, seperti Abdullah ibn Saba, mencoba memanas-manasi keadaan dengan memberontak kepada khalifah. Abuzar justru menjadi marah dan berkata, “Walaupun Usman menggantungku di bukit yang paling tinggi sekalipun, aku tidak akan mengangkat jariku untuk melawannya,”

Seperti layaknya Muslimin sejati, Abuzar tunduk pada pemerintah pusat kekuasaan Islam. Dia melaksanakan perintah pindah ke Razba dan meninggal di sana pada tanggal 8 Dzulhijah tahun 32 H. jasadnya terbaring di jalur kafilah, dan hanya ditunggui jandanya. Tampaknya tidak ada seorang pun yang membantu menguburkannya. Tiba-tiba di kaki langit muncul sebuah kafilah haji yang sedang menuju ke Mekkah. Ketika diberitahukan itulah mayat Almarhum Abuzar, sahabat Nabi yang terpuji, mereka segera memutuskan berhenti di sana. Jenazah Abuzar mereka sembahyangkan dipimpin Abdullah ibn Mas’ud, seorang sarjana Islam yang terkenal, untuk kemudian dikuburkan. (dari berbagai sumber)

Related Posts

Introspeksi diri

Dalam suatu kesempatan Syaikh Al Junaid bertanya kepada Syaikh Al Muhasabi, “Bagaimana caranya agar dapat bersabar atas perlakuan tidak baik orang lain kepadaku?” Al Muhasabi menjawab, “Pikirkan olehmu bahwa orang…

Baca lanjutan

Budaya Sadar Diri

Baik dan buruknya tingkah laku dan perbuatan seseorang sesungguhnya amat tergantung pada persona diri orang itu sendiri. Ada kalanya diri ini mampu menampilkan sosok yang baik di hadapan orang sekitar,…

Baca lanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

  • By
  • July 13, 2025
  • 35 views
The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

  • By
  • July 13, 2025
  • 33 views
6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

Why Netflix shares are down 10%

  • By
  • July 13, 2025
  • 31 views
Why Netflix shares are down 10%

For Families of Teens at Microsoft Surface

  • By
  • July 13, 2025
  • 29 views
For Families of Teens at Microsoft Surface
Review Your Cart
0
Add Coupon Code
Subtotal