Baik dan buruknya tingkah laku dan perbuatan seseorang sesungguhnya amat tergantung pada persona diri orang itu sendiri. Ada kalanya diri ini mampu menampilkan sosok yang baik di hadapan orang sekitar, terkadang juga berpenampilan kurang baik bahkan amat tidak menyenangkan bagi sekelilingnya.
Untuk itulah apa yang dinamakan sadar diri yaitu menyadari akan keberadaan diri sendiri menjadi amat penting dalam konteks pergaulan hidup, siapa dan dalam kapasitas apa pun si pemilik diri itu.
Islam memberi panduan bagi kita apa dan bagaimana yang paling pas untuk bisa tampil secara baik dan menyenangkan. Jika tak keliru, dalam kalimat yang amat dalam Nabi Muhammad SAW menggambarkan sebagai, “Belum sempurna iman seseorang manakala orang lain tidak merasa aman dan selamat akan keberadaan dirinya.”
Ungkapan semacam itu tentu menjadi perwujudan dari kehendak rumusan yang amat karib dengan telinga dan lisan kita: aamanu wa aamilish-shalihaat, iman dan amal salih. Betapa iman atau beriman saja tidaklah dipandang cukup melainkan harus dibuktikan pula dengan adanya peran amal salih dari seseorang yang mengaku beriman itu. Amat banyak kata iman senantiasa digendeng dengan amal salih sehingga menjadi bentukan aamanu wa aamilish-shalihaat itu, baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, sebagai rujukan utama ummat Islam.
Islam itu sendiri dalam makna sederhananya adalah selamat dan menyelamatkan, juga damai dan mendamaikan. Maka menjadi amat bertentangan ketika ada tudingan bahwa Islam itu sebuah tatanilai, aturan, atau agama yang cenderung kepada permusuhan, perang, dan apalagi membawa kepada kerusakan.
Kita juga ingin mengatakan bahwa tindakan teror dan terorisme yang biasanya lalu menimbulkan konteks kerusakan, kepanikan, ketidaknyamanan, dan ketakutan itu tidak dikenal dalam rumusan Islam. Dan, ketika hal itu disasarkan kepada Islam atau umat Islam, berarti yang terjadi adalah kesalahpahaman!
Yang harus dilakukan oleh setiap diri adalah upaya-upaya menjalani hidup dan kehidupan secara baik dan benar melalui pedoman yang telah disiapkan Allah dan Rasul-Nya. Tidak ringan, tetapi kalaulah secara konsisten dipegang baik-baik apa yang menjadi pedoman kita yang hidup dan berserah diri (dalam kemusliman) ini sebenarnya sudah bisa mengantarkan kepada pemandangan yang baik dan indah. Maka benarlah kata guru-guru kita di kampung dulu yang mengatakan bahwa, “Al-Qur’an itu bukan cuma dibaca dan dihafal, akan tetapi direnungi apa yang menjadi pesan di dalamnya kemudian amalkan sebisamu.”




