Khalifah Umar Ibn Khattab:Istanaku di dalam hati

Khalifah Umar Ibnu Khattab adalah sosok khalifah yang sangat
sederhana. Saking sederhananya sampai-sampai orang yang menjumpainya tak percaya, kalau yang tengah dihadapi adalah seorang khalifah yang
kekuasaannya meliputi jazirah Arabia, bahkan sampai ke daratan Afrika.

Info Box

Click here to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Namun di balik kekuasaan yang sangat luas tersebut, sikap Umar Ibn
Khattab sangat bertolak belakang. Ia hidup dalam kesederhanaan dan
kejujuran. Setiap uang negara yang dipakainya senantiasa dipergunakan
untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya.
Kesederhanaan Sayidina Umar terlihat dari tempat tinggal dan pengadilannya yang seperti layaknya rakyat kebanyakan.

Satu saat seorang pedagang Yahudi dari Mesir datang ke Madinah. Ia ingin menemui Khalifah Umar. Namun ia sungguh belum tahu, yang mana Umar bin Khattab, kepala pemerintaahan negeri Islam yang wilayahnya makin meluas itu. Kepada seseorang yang ia temui di perjalanan, ia bertanya, “Di manakah istana raja negeri ini?”

Orang itu menjawab, “Lepas Dhuhur nanti, ia akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid. Dekat pohon kurma. Jika kau ingin menemuinya, pergilah ke tempat itu.”

Yahudi itu sesunguhnya membayangkan, alangkah indahnya istana Khalifah,
dihiasi kebun kurma yang rindang, tempat berteduh merintang-rintang waktu.

Maka tatkala tiba di muka masjid, ia kebingungan. Sebab di situ tidak ada
bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma, tetapi cuma
sebatang saja.

Dan di bawahnya, tampak seorang lelaki kekar dengan jubah yang sudah luntur
warnanya tengah tidur-tidur ayam. Yahudi itu mendatangainya dan bertanya,
“Maaf, saya mau berjumpa dengan Umar bin Khattab.”

Sambil bangkit dan tersenyum Umar menjawab, “Akulah Umar bin Khattab.”

Yahudi itu terbengong-bengong, “Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin
negeri ini.”

Umar menjelaskan, “Akulah Khalifah, pemimpin negeri ini.”

Yahudi itu makin kaget. Mulutnya terkatup rapat, tidak bisa bicara. Ia
membandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba gemerlapan dan
para raja Israel yang istananya juga tak kalah agung.

Sungguh tidak masuk akal, kalau ada seorang pemimpin dari suatu negara yang
begitu besar, tempat istirahatnya hanya di atas selembar tikar, di bawah
pohon kurma di tengah langit yang terbuka.

“Di manakah istana Tuan?” tanya sang Yahudi.

Umar menuding, “Di sudut jalan itu. Bangunan nomor tiga dari yang terakhir,
kalau yang kau maksudkan adalah kediamanku.”

“Maksud Tuan, yang kecil dan kusam itu?” si Yahudi tambah keheranan.

“Ya. Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada dalam hati yang
tenteram dengan ibadah kepada Allah swt,” Sambut Umar sembari tetap
tersenyum.

Yahudi itu kian tertunduk. Kedatangannya yang tadinya hendak melampiaskan
kemarahan dan tuntutan-tuntutan, berubah menjadi kepasrahan dengan segenap
jiwa raga.

Sambil matanya berkaca-kaca ia berkata, “Tuan saksikanlah, sejak hari ini
saya meyakini kebenaran agama Islam. Izinkah saya memeluk Islam sampai
mati.”

Setelah mengikrarkan syahadat, orang itu akhirnya pergi dengan dadanya
dipenuhi suka cita. Umar sendiri terus memperhatikannya dengan baik-baik.
Ia memandangi pohon kurma di hadapannya. Ia juga memandangi pakaiannya
sendiri.

Baginya, sebagai seorang pemimpin penampilannya harus benar-benar
mencerminkan kesederhanaan. Baginya, apalah artinya sebuah kekuasaan jika
hanya harus menyakiti umatnya yang banyak? (taryono asa/dari berbagai sumber)

  • Related Posts

    Introspeksi diri

    Dalam suatu kesempatan Syaikh Al Junaid bertanya kepada Syaikh Al Muhasabi, “Bagaimana caranya agar dapat bersabar atas perlakuan tidak baik orang lain kepadaku?” Al Muhasabi menjawab, “Pikirkan olehmu bahwa orang…

    Baca lanjutan

    Budaya Sadar Diri

    Baik dan buruknya tingkah laku dan perbuatan seseorang sesungguhnya amat tergantung pada persona diri orang itu sendiri. Ada kalanya diri ini mampu menampilkan sosok yang baik di hadapan orang sekitar,…

    Baca lanjutan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Jangan Lewatkan

    The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

    • By
    • July 13, 2025
    • 35 views
    The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

    6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

    • By
    • July 13, 2025
    • 33 views
    6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

    Why Netflix shares are down 10%

    • By
    • July 13, 2025
    • 31 views
    Why Netflix shares are down 10%

    For Families of Teens at Microsoft Surface

    • By
    • July 13, 2025
    • 29 views
    For Families of Teens at Microsoft Surface
    Review Your Cart
    0
    Add Coupon Code
    Subtotal