Mencermati Jejak Rekam

Sejarah kehidupan Sayidina Umar Ibn Khattab Ra sebelum beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, adalah sejarah yang kelam. Sayidina Umar adalah seorang yang taat pada tradisi jahiliyah, termasuk tradisi-tradisi yang negatif.

Namun kalau melihat Sayidina Umar sesudah memeluk agama Islam, tidak ada seorang pun yang tidak mengakui, bahwa beliau adalah seorang Muslim yang taat. Seorang Muslim yang pemberani, tegas, dan mampu memisahkan mana yang baik dan mana yang benar. Tak heran Rasulullah memberi gelar padanya Al Faruq.
Sejarah juga mencatat, begitu Sayidina Umar Ra menjadi khalifah menggantikan Sayidina Abubakar Ash-shidiq, reputasinya sangat mengagumkan. Kepemimpinannya yang tegas, dan tegar, bukan hanya mampu melebarkan sayap dakwah ke seluruh jazirah Arabia. Namun pada sisi yang bersamaan, Sayidina Umar mampu mensejahterakan rakyatnya. Sayidina Umar ternyata orang yang sangat penyabar, santun, dan juga selalu bekerja lebih cepat dan lebih baik. Tanggap terhadap masalah yang tengah dihadapi oleh rakyatnya dan tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Mari kita mengambil hikmah dari garis kehidupan dari sosok sahabat Rasulullah SAW yang proses keislamannya diminta langsung oleh Rasulullah untuk membuat Islam kuat saat itu.

Di saat hiruk pikuk kehidupan politik seperti sekarang ini, sangat layak apabila figur Umar bin Khattab sebagai sampel. Siapa pun tahu bahwa masa lalu, Sayidina Umar sangatlah kelam. Namun begitu ketika berada dalam pangkuan Islam, perangainya berubah 100 persen. Ketawadu’annya, kewaraannya, sangatlah mengagumkan, sehingga tatkala Sayidina Abubakar wafat, dialah figur yang dianggap paling cocok untuk menjadi amirul mukminin.
Pada saat sekarang ini, saat seluruh bangsa Indonesia morat- marit, mari umat Islam sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan Sayidina Umar. Yang semoga saja kisah itu dapat diambil sebuah itibar, bahwa jejak rekam seseorang memang perlu untuk dipelajari, dan perlu untuk diingat. Namun track record seseorang bukanlah sarana untuk senantiasa mencap manusia dalam posisi yang selalu negatif.
Rasulullah SAW sebagai makhluk Allah yang paling mulia tidak pernah menempatkan Sayidina Umar dalam posisi pesakitan. Rasulullah SAW tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan Sayidina Umar sebelum masuk Islam. Dengan demikian pintu orang untuk berbuat baik sangatlah terbuka. Tinggal bagaimana kita menyikapi kebaikan itu sendiri.
Seringkali orang yang sudah bersalah, dan secara hukum duniawi telah dinyatakan bersalah oleh lembaga pengadilan, selalu dipandang sebagai orang yang patut dicurigai. Sedikit saja ada masalah yang mirip dilakukan orang tersebut selalu dilihat sebagai kesalahan yang patut diduga dilakukan lagi oleh orang tersebut. Padahal bisa jadi ada orang yang sengaja melalukan perbuatan tersebut, lantaran ingin memojokkan orang yang dianggap pernah bersalah tersebut.
Lantas secara membabi buta bahwa orang itu selalu ditempatkan pada posisi yang bersalah terus menerus.
Manusia adalah makhluk Allah yang dhaif. Kecuali Rasulullah, setiap manusia memiliki sisi negatif. Dan memiliki kesalahan merupakan sunnatullah, sudah ketentuan Allah Karena itu tidak layak apabila seseorang terus menerus ditempatkan pada posisi yang bersalah. Sebab, Allah sendiri adalah Rab yang Maha Pengampun.
Menempatkan seseorang pada posisi salah terus menerus memang bukan suatu yang bijak. Sebab, pada hakikatnya di dalam diri manusia ada sisi baiknya. Begitu juga tokoh-tokoh yang ada sekarang ini pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk. Tinggal bagaimana kita menyikapnya, apakah memang kita akan terus menerus memandang dari sisi buruknya, atau pada akhirnya kita tinggalkan sisi buruknya untuk kita melangkah ke depan yang lebih baik.

  • Related Posts

    Introspeksi diri

    Dalam suatu kesempatan Syaikh Al Junaid bertanya kepada Syaikh Al Muhasabi, “Bagaimana caranya agar dapat bersabar atas perlakuan tidak baik orang lain kepadaku?” Al Muhasabi menjawab, “Pikirkan olehmu bahwa orang…

    Baca lanjutan

    Budaya Sadar Diri

    Baik dan buruknya tingkah laku dan perbuatan seseorang sesungguhnya amat tergantung pada persona diri orang itu sendiri. Ada kalanya diri ini mampu menampilkan sosok yang baik di hadapan orang sekitar,…

    Baca lanjutan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Jangan Lewatkan

    The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

    • By
    • July 13, 2025
    • 35 views
    The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

    6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

    • By
    • July 13, 2025
    • 33 views
    6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

    Why Netflix shares are down 10%

    • By
    • July 13, 2025
    • 31 views
    Why Netflix shares are down 10%

    For Families of Teens at Microsoft Surface

    • By
    • July 13, 2025
    • 29 views
    For Families of Teens at Microsoft Surface
    Review Your Cart
    0
    Add Coupon Code
    Subtotal