Saat ini tidak sedikit umat Islam yang mengelus dada, menangis dan menjerit melihat polah tingkah pemimpin yang dulu dipilihnya ternyata tidak mencerminkan pembelaannya terhadap kepentingan umat Islam.
Mereka tidak terlihat keseriusannya dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, tidak mendukung kemandirian bangsa sendiri, dan sebaliknya mereka lebih mengedepankan kepentingan diri sendiri, lebih menyenangi urusan duniawi dan melupakan kehidupan kekal di alam akhirat.
Rasulullah Saw bersabda: “Seseorang yang telah diberi amanat oleh Allah Swt untuk memimpin rakyat, kemudian dia tidak memimpinnya dengan jujur, maka dia tidak akan memperoleh bau surga” (HR Bukhari).
Dalam pandangan Islam kepemimpinan pada dasarnya adalah amanat yang diberikan oleh Allah Swt dan rakyat adalah obyek dari pelaksanaan amanat itu. Oleh karena itu, kepemimpinan harus memiliki arah dan tujuan jelas yang akan dapat mengantarkannya kepada kepemimpinan yang jujur, adil, dan berwibawa.
Persoalan kepemimpinan tidak semata-mata urusan duniawi, yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama dan urusan akhirat. Hadits di atas menjadi dasar bagi kita semua bahwa kepemimpinan politik akan membawa akibat pada kehidupan akhirat. Rasulullah Saw telah menegaskan bahwa kepemimpinan yang tidak amanah dan tidak jujur dipastikan tidak akan dapat memasuki surga, bahkan untuk mencium baunya saja tidak bisa.
Padahal bau surga konon sudah tercium harum wanginya dari jarak yang sangat jauh, dari jarak yang harus ditempuh selama ratusan tahun perjalanan. Namun, bau surga tersebut tidak akan dapat tercium oleh para pemimpin yang tidak amanah dan tidak jujur kepada rakyat yang dipimpinnya. Artinya, para pemimpin yang membohongi rakyat dipastikan akan sangat jauh dari surga. Jangankan mereka mendapat kedudukan yang mulia di dalam surga, mencium baunya saja mereka tidak dapat.
Bagi para pemimpin yang benar-benar mengimani dan meyakini kebenaran risalah Rasulullah Saw tersebut tentu akan bergetar hatinya dan berdiri bulu kuduknya karena sangat berat jabatan amanat kepemimpinan yang harus dipertanggung jawabkan di alam kehidupan yang kekal di akhirat.
Bagi para pemimpin yang mengimani kehidupan akhirat tentu akan selalu mempertimbangkan keputusan dan kebijakan yang diambilnya, yaitu keputusan untuk membela kepentingan rakyat dan bukan kepentingan diri sendiri dan golongannya. Wallahu alam




