“BERBICARALAH kamu kepada Fir’aun dengan kata-kata yang santun. Mudah-mudahan saja Fir’aun mau ingat dan takut.” (QS Thaha [20]:44)
Tokoh agama di Indonesia mulai unjuk gigi. Mereka secara terang-terangan berani mengritisi pemerintah dengan bahasa yang kadang kasar.
Memang sudah menjadi tugas tokoh agama yang harus membela kepentingan umat di depan penguasa zalim. Namun yang menjadi pertanyaan apakah langkah yang diambil para tokoh agama itu sudah tepat, dan sudah sesuai dengan tempatnya. Bisa jadi masalah ini menjadi debatable.
Bagi kalangan tokoh agama Islam, mengkritisi pemerintah memang bukan barang baru. Di tengah kekuatan pemerintahan Soeharto di era 1980-an, suara santer untuk mengkritisi pemerintahan Soeharto pun banyak disuarakan dari mimbar-mimbar dakwah. Tak heran hingga sasat itu banyak muballigh, dan dai yang dipenjara. Sebut saja, Habib Idrus Jamalullail, AM Fatwa, Abdul Qadir Jaelani, Tony Ardie, Mawardi Noer yang harus meringkuk bertahun-tahun di penjara dengan terlebih dahulu mendapat siksaan yang keras dari alat-alat penguasa saat itu.
Diutusnya para nabi pun pada hakikatnya untuk meluruskan perilaku penguasa yang dzalim. Sebut saja, Nabi Ibrahim menghadapi Raja Namrud, dan yang fenomenal Nabi Musa dan Harun menghadapi penguasa tiran Fir’aun.
Pasca kenabian pun, ulama para pewaris nabi banyak mengambil peran dalam mengritisi para penguasa. Misalnya, para ulama yang hidup di era Khalifah al-Ma’mun. Khalifah yang dianggap banyak merugikan kehidupan umat itu menjadi bulan-bulanan para khatib salat Jumat dan para tokoh agama pada masanya.
Namun Khalifah Al-Ma’mun tanggap terhadap suara kritis dari para tokoh agama. Ia hanya mempersoalkan cara yang ditempuh oleh mereka dengan menjadikan forum aktivitas keagamaan sebagai arena caci-maki bagi khalifah. Hingga akhirnya mengundang penceramah ke istananya. Begitu sampai di istana, Khalifah al-Ma’mun langsung menginterogasinya.
“Kamu penceramah di masjid itu, ya?” “Benar, Tuan.”
“Kalau begitu, tolong jawab dengan jujur. Menurutmu, mana yang lebih baik, kamu atau Nabi Musa?”
“Sudah pasti Nabi Musa. Beliau lebih baik daripada saya. Tuan juga tahu, bukan?” jawab si penceramah tanpa ada rasa takut.
“Ya, benar. Saya juga sependapat. Masih ada satu lagi pertanyaan. Siapakah yang lebih jahat, saya atau Fir’aun.” Kali ini, ia tergagap. Sama sekali pertanyaan kedua ini tidak disangkanya. Dia paham ke mana arah pertanyaan khalifah ini. Bagaimanapun juga, dia harus menjawab pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya. “Menurut pendapat saya, Fir’aun masih lebih jahat daripada Tuan.”
Khalifah Al-Ma’mun yang merasa di atas angin lantas mengingatkan, terhadap Fir’aun saja Allah menyuruh berkata santun, tapi mengapa engkau memperlakukan saya melebihi Nabi Musa terhadap Fir’aun. Bukankah Allah perintahkan di dalam Al Quran. “Berbicaralah kamu kepada Fir’aun dengan kata-kata yang santun. Mudah-mudahan saja Fir’aun mau ingat dan takut.” (QS Thaha [20]:44).
Kali ini sang ulama tak bisa mengelak. Kendati bawaannya ingin meledak-ledak dan bicara tanpa tedeng aling-aling, tapi ia ingat pada ayat tersebut
Sehelai Rambutmu Lebih Mulia Dari Jubah Ulama
Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu. “Wahai Imam, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat…
Baca lanjutan



