Menjaga Aqidah, Merawat Ukhuwah di Tengah Natal

Oleh: Maghfur Ghazali

SETIAP menjelang akhir Desember, ruang publik kembali dihadapkan pada satu pertanyaan yang terus berulang: bolehkah seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal pilihan kata, melainkan menyentuh wilayah paling sensitif dalam kehidupan beragama, yakni aqidah, sekaligus realitas sosial bangsa yang majemuk.

Dalam keyakinan umat Kristiani, Natal dimaknai sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus. Sementara dalam Islam, Allah SWT Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Di titik ini, Islam memberikan batas aqidah yang tegas dan tidak dapat ditawar. Keyakinan tauhid adalah fondasi iman yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian. Namun kehidupan bermasyarakat tidak selalu berlangsung dalam ruang teologi yang kaku. Ia berjalan dalam perjumpaan antarmanusia, dalam sapaan, bahasa, dan sikap sehari-hari.

Di sinilah perbedaan antara ranah aqidah dan ranah muamalah menjadi penting untuk dipahami secara proporsional. Kata “selamat” dalam bahasa Indonesia memiliki makna yang luas. Ia bisa berarti doa keselamatan, harapan kebaikan, atau ungkapan empati dan penghormatan. Dalam praktik komunikasi sosial, ucapan selamat sering kali berfungsi sebagai ekspresi hubungan kemanusiaan, bukan sebagai pernyataan keimanan atau pembenaran teologis

Islam sendiri mengajarkan bahwa setiap amal bergantung pada niat. Niat yang bersemayam di dalam hati itulah yang menjadi penentu nilai suatu perbuatan. Mengucapkan selamat dengan niat menjaga silaturahmi, menghindari permusuhan, dan menebar kedamaian sosial tentu berbeda dengan mengafirmasi keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam.

Al-Qur’an juga banyak menekankan pentingnya hablum minannas—hubungan baik antarsesama manusia—sebagai bagian dari akhlak seorang mukmin. Menjaga lisan, menebarkan kedamaian, dan bersikap adil dalam pergaulan sosial adalah perintah yang berulang kali ditegaskan.

Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, kemampuan menempatkan diri secara arif justru menjadi wujud kedewasaan beragama. Ilmu komunikasi membantu menjelaskan bahwa makna sebuah ucapan tidak berdiri sendiri pada kata, tetapi lahir dari konteks, niat penyampai pesan, dan situasi sosial yang melingkupinya.

Itu sebabnya sebuah pesan atau kalimat bisa bermakna teologis dalam ruang ibadah, namun berubah menjadi ungkapan empati ketika hadir di ruang sosial yang plural. Karena itu, sebagian umat Islam memilih sikap yang berhati-hati dan berimbang guna menjaga kemurnian aqidah, sekaligus tidak memutus tali kemanusiaan.

Ucapan yang disampaikan pun dibingkai dalam nilai-nilai universal seperti kedamaian, keselamatan, dan harapan akan kebaikan, tanpa menyentuh aspek keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Atau bahkan ada yang memilih tidak mengucapkannya sama sekali.

Perbedaan pandangan di kalangan umat Islam terkait hal ini patut dihormati. Yang terpenting adalah menjaga adab dalam menyikapi perbedaan, tidak saling menyesatkan, dan tidak menjadikan isu ini sebagai sumber perpecahan. Sebab persaudaraan sesama anak bangsa juga merupakan amanah yang harus dijaga.

Pada akhirnya, Natal dan pergantian tahun selalu menjadi momentum refleksi. Bagi umat Islam, momentum ini dapat dimaknai sebagai pengingat untuk terus menjaga iman, memperbaiki akhlak, dan merawat kedamaian sosial. Iman dijaga di dalam hati, sementara persaudaraan dirawat melalui kata dan sikap yang penuh hikmah.

Maghfur Ghazali, staf pengajar pada Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Attaqwa KH Noer Alie (IAN) Bekasi

  • Related Posts

    Ketua umum PITI Serian Wijatno:Board of Peace Harus Beri Keadilan buat Palestina

    JAKARTA, SATUUMAT.COM — Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI ), H. Serian Wijatno mengatakan pembentukan Board of Peace yang digagas oleh Amerika Serikat tidak akan efektif jika tidak ada…

    Baca lanjutan

    Menjaga Amanah

    ALKISAH seorang penjaga kebun diminta oleh sang pemilik kebun untuk mengambilkan buah kurma yang manis. Namun saat sang pemilik kebun itu mencicipi kurma yang didapatkan adalah yang asam. Sampai tiga…

    Baca lanjutan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Jangan Lewatkan

    The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

    • By
    • July 13, 2025
    • 53 views
    The New Threat to Wolves in and Around Yellowstone

    6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

    • By
    • July 13, 2025
    • 55 views
    6 Bots That Deliver Science and Serendipity on Twitter

    Why Netflix shares are down 10%

    • By
    • July 13, 2025
    • 49 views
    Why Netflix shares are down 10%

    For Families of Teens at Microsoft Surface

    • By
    • July 13, 2025
    • 46 views
    For Families of Teens at Microsoft Surface
    Review Your Cart
    0
    Add Coupon Code
    Subtotal